Lurah Semarapura Kaja

I Wayan Astawa, SE

Mejaga-jaga, Tradisi “Cecerkan” Darah Sapi untuk Jaga Desa

  • 15 Desember 2017
  • Dibaca: 721 Pengunjung
Mejaga-jaga, Tradisi “Cecerkan” Darah Sapi untuk Jaga Desa

SEMARAPURA - Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung kembali menggelar tradisi mecaru mejaga-jaga, Selasa (22/8) kemarin. Tradisi ini digelar tiap tahun. Biasanya digelar bertepatan dengan tilem sasih karo. Seperti apa?

Upacara yang dipusatkan di catus pata, desa setempat tak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Ini karena desa setempat tak berani mengubah rentetan tradisi yang sudah diwariskan secara turun-menurun itu. Apalagi sampai tidak menggelarnya. Konon, tradisi itu pernah ditiadakan dengan alasan kesibukan krama melaksanakan upacara ngaben. Ternyata, beberapa orang meninggal di sana. Petani juga gagal panen.

“Sampai sekarang kami tidak berani tak menggelarnya. Ketika tidak dilaksanakan prosesi upacara ini, maka akan terjadi malapetaka,” ujar  Bendesa Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Wayan Sulendra didampingi Petajuh, Komang Karyawan.

Upacara mecaru mejaga-jaga ini menggunakan seekor sapi pilihan. Tidak boleh cacat. Seekor sapi yang sudah dikebiri itu juga tidak dipilih orang sembarangan. Hanya bisa dipilih oleh keturunan pemangku prajapati, pemangku catus pata, serta pamong dalem.

Sekitar pukul 07.00, sapi yang sudah dimandikan itu bersiap diarak. Sapi yang diikat dengan tujuh tali itu pertama kali diarak ke arah utara sampai di ujung desa sebelah utara. Persisnya di depan Pura Puseh desa setempat. Di sana, digelar proses upacara. Sapi ditebas pada pantat sebelah kanan oleh pemangku catus pata. Sapi tersebut ditebas menggunakan blakas sudamala yang disakralkan. Darahnya pun berceceran.

Kemudian, sapi tersebut kembali diarak krama (warga) menuju arah selatan hingga di batas desa. Persis di depan Pura Dalem, dilakukan proses upacara yang tak jauh beda dengan upacara di perbatasan desa sebelah utara. Sapi ditebas pada pantat bagian kiri. Selanjutnya diarak kembali ke catus pata, sebelum akhirnya diarak lagi ke arah timur sampai di perbatasan desa sebelah timur. Di sana, sapi yang tampak kelelahan itu kembali ditebas pada pantat sebalah kanan.  

“Diarak ke barat sampai di depan Pura Prajapti. Kaki belakang mana yang lebih agak ke belakang, itu ditebas. Kemudian kembali ke catus pata untuk upacara selanjutnya,” jelas pegawai di Kelurahan Semarapura Kaja itu.

Pihaknya pun menegaskan, ceceran darah sapi itu diyakini sebagai darah kurban untuk menjaga desa setempat. Baik skala maupun niskala. “Intinya menetralkan atau membersihkan alam. Baik parhyangan, pawongan dan pelemahan,” bebernya.

Menariknya, masyarakat setempat terlihat berebut mencari darah sapi tersebut kemarin. Sebagian besar warga mendapatkan darah sapi itu, mengusapkannya ke wajah.  Darah sapi itu dipercaya mengobati penyakit. “Bahkan dulu banyak warga luar desa yang mencari (darah). Diyakini untuk pembersihan diri. Misalnya ketika ada kegeringan,” tandasnya. 

  • 15 Desember 2017
  • Dibaca: 721 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita